Penanganan HEPATITIS saat HAMIL, Persalinan, Menyusui

 Hamil Sehat  Comments Off on Penanganan HEPATITIS saat HAMIL, Persalinan, Menyusui
Jan 102017
 
Facebooktwittergoogle_plusmail

Hepatitis B merupakan penyakit peradangan pada organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV), di masyarakat penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan sakit liver.

Seseorang dengan infeksi akut virus hepatitis B memiliki gejala seperti kehilangan nafsu makan, badan terasa lemah, nyeri ulu hati, mual, muntah, demam, kencing tampak seperti air teh pekat dan mata terlihat kekuningan.

Diagnosis pasti penderita mengidap hepatitis B bila ditemukan HBsAg positif dalam pemeriksaan darahnya. Sebagian besar penyakit ini menular melalui hubungan seksual, pengguna obat-obatan yang menggunakan jarum suntik terkontaminasi, tato, serta tranfusi darah. Masa inkubasi virus ini dari mulai terpapar hingga menimbulkan gejala berkisar 6 minggu hingga 6 bulan. Jika dibiarkan berlanjut, penyakit ini akan berlangsung kronik dan timbul keadaan di mana sel-sel hati akan mengalami pengerasan yang disebut sirosis hepatis. Tak jarang pula hepatitis B ini menjadi penyebab kanker hati. Pada kedua keadaan tersebut harapan hidup pasien akan menjadi sangat rendah.

 

Kebanyakan ibu hamil dengan hepatitis B carrier tidak merasa ataupun terlihat sakit, tetapi mereka dapat mentransmisikan virus tersebut dan membuat orang lain menderita hepatitis B. Bagaimanapun, carrier memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita kerusakan hati yang progresif akibat reaktivasi spontan hepatitis B berulang, sehingga memerlukan pengawasan dokter secara rutin.

Pada 5-10% orang dewasa yang terinfeksi hepatitis B akan ‘membawa’ atau menyimpan virus tersebut selama hidupnya, yang kemudian disebut hepatitis B carrier.  Hepatitis B memiliki 4 fase untuk menjadi Hepatitis B kronik yaitu:

Fase toleransi imunitas (immune tolerance phase)
Fase pembersihan imunitas (immune clearance phase)
Fase kontrol imunitas (immune control phase)
Fase penurunan imunitas (immune escape phase)

Selama fase satu dan tiga, umumnya pasien tidak memiliki keluhan dan disebut dengan ‘inactive carrier’. Bagaimanapun juga, orang tersebut umumnya tidak dapat bertahan selamanya di dalam fase ini, mereka akan berpindah fase dan selalu memiliki risiko untuk terjadinya kerusakan hati progresif dan pembentukan sirosis hati (pengecilan hati).

Pasien pada fase 1 dan 3 umumnya tidak diberikan terapi karena berdasarkan penelitian, pemberian antivirus tidak ada bedanya dengan plasebo. Pasien dengan fase 2 dan 4 akan diberikan terapi antivirus yang disebut interveron alfa. Pengobatan ini bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya sirosis hati dan kanker hati, namun tetap tidak dapat menghilangkan virus yang terdapat di dalam tubuh. Penderita hepatitis B kronik harus mengkonsumsi obat tersebut dan kontrol secara berkala ke dokter. Meskipun dengan pengobatan tersebut, virus tidak dapat dihilangkan secara total, yang penting untuk dilakukan adalah menekan replikasi (perkembangbiakan) virus serendah mungkin, sehingga peradangan hati yang terjadi dapat lebih diminalisir.

Yang diperlukan pada pasien carrier tanpa gejala adalah follow-up atau kunjungan ke dokter secara reguler untuk memastikan fase yang terjadi dan perlu tidaknya terapi. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

Menjaga kesehatan carrier

-menjaga pola makan yang baik, dengan jadwal yang teratur dan komposisi yang baik, termasuk jumlah cairan minum yang dikonsumsi

-Mengunjungi dokter teratur (minimal 1x/tahun). Diskusikan mengenai tes darah dan pemeriksaan USG berkala dan penggunaan obat interferon alfa-2b.
-Diskusikan dengan dokter mengenai obat-obatan yang dijual bebas, bahkan obat herbal, karena beberapa dapat merusak hati.
-Tidak mengonsumsi alkohol karena dapat merusak hati
-Tidak menggunakan obat-obatan terlarang (suntik), karena memiliki risiko terkena hepatitis yang lain.
Menjaga diri carrier dari menginfeksi orang lain

-Orang-orang yang berisiko terinfeksi hepatitis B adalah mereka yang  memiliki kontak dekat (dengan darah, semen, atau cairan tubuh lain) dengan carrier. Sebagai contoh: pasangan seksual, orang yang tinggal serumah, anak  yang lahir dari carrier. Beritahu mereka mengenai kondisi carrier, bahwa  tidak masalah untuk berbagi makanan bersama.
– penderita Hepatitis Carrier yang sedang hamil agar memberitahu dokter mengenai kondisinya, agar bayinya diberi suntikan yang menjaganya dari hepatitis B (vaksin hepatitis B dan hepatitis B imunoglobulin pada 12 jam pertama kelahiran) dan dipersiapkan kelahiran dengan operasi caesar karena dapat terjadi penularan hepatitis B dari Ibu ke janin pada saat proses persalinan normal.
-Tidak mendonorkan darah, plasma, organ tubuh, jaringan atau sperma

    Untuk mereka yang memiliki kontak dekat dengan carrier.

Memeriksakan diri ke dokter untuk tes hepatitis B
Vaksinasi hepatitis B
Tidak berbagi rokok, sikat gigi, gunting, pisau cukur, dsb
Tutup semua luka dengan bandage
Cuci tangan, terutama setelah menyentuh darah
Bersihkan cipratan darah dengan campuran pemutih dan air (1,5 cangkir pemutih dalam satu galon air) untuk mematikan virus hepatits B.

Hepatitis B dalam kehamilan

Pada penderita hepatitis B, hamil tidak akan memperberat infeksi virus hepatitis, akan tetapi jika terjadi infeksi akut pada kehamilan, terutama trimester ke III (akhir) kehamilan, maka dapat mengakibatkan terjadinya hepatitis fulminan yang dapat menimbulkan resiko kematian yang tinggi bagi ibu dan bayi.

Adapun ibu yang menderita hepatitis B kronis tetap bisa mengandung calon bayinya. Namun yang terpenting ialah titer virus hepatitis B yang terkontrol. Penularan virus dari ibu ke bayi memang dapat terjadi. Biasanya penularan terjadi melalui plasenta, kontaminasi dengan darah dan kotoran ibu ketika persalinan, maupun kontak langsung ibu dengan bayi setelah melahirkan. Untuk itu kesadaran dalam memeriksakan kandungan kepada dokter dan ilmu yang cukup sangatlah penting bagi ibu hamil dengan penyakit ini.
Pencegahan

Skrining ibu hamil, skrining HBsAG pada ibu hamil dilakukan terutama pada daerah di mana terdapat prevalensi tinggi. Hasil skrining sangat menentukan tindakan selanjutnya bagi ibu seperti pemberian obat antiviral oleh dokter bila dipandang perlu.
Imunisasi, ternyata penularan hepatitis B dari ibu ke bayi sebagian besar dapat dicegah dengan pemberian imunisasi. Pemberian vaksinasi HB pada bayi diberikan pada hari ke 0, umur 1, dan 6 bulan.

Persalinan ibu hamil dengan hepatitis dan pemberian ASI

Penentuan jenis persalinan ibu hamil dengan hepatitis akan ditentukan oleh dokter. Pada ibu hamil dengan titer virus hepatitis rendah, dapat melahirkan normal dengan syarat persalinan jangan dibiarkan lama yaitu lebih dari 16 jam. Jika persalinan berlangsung lebih dari waktu tersebut maka harus segera dilakukan seksio sesarea. Sama halnya pada ibu hamil dengan titer hepatitis yang tinggi ( lebih dari 3,5 pg/mol), lebih baik persalinan dilakukan dengan operasi.

Pemberian ASI dianggap aman karena berbagai penelitian telah membuktikan bahwa penularan melalui saluran cerna membutuhkan titer virus yang jauh lebih tinggi dibandingkan penularan melalui darah maupun luka

 

 

Facebooktwittergoogle_plusmail
Jan 092017
 
Facebooktwittergoogle_plusmail

berikut adalah tips untuk menghindari kosmetik yang berbahaya, dan memilih kosmetik yang aman. pada dasarnya, Untuk mengetahui apakah kosmetik yang digunakan mengandung bahan berbahaya atau tidak, bisa kita cermati keterangan kandungannya yang harus tertera pada kemasan produk.  Beberapa bahan ini membahayakan janin bahkan ibu hamil:

1. Daftar produk Kosmetik yang kurang aman & Berbahaya terutama saat hamil – Merkuri

Merkuri merupakan salah satu kandungan pada kosmetik yang harus dihindari bahkan saat tidak hamil sekalipun. Dampak merkuri adalah kerusakan saraf permanen dan gangguan perkembangan janin. Walaupun peredaran merkuri telah dilarang, waspada tetap perlu terutama terhadap kosmetik yang tidak terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), tidak jelas produsennya, atau kosmetik merek palsu. Biasanya merkuri terdapat pada produk-produk kosmetik pemutih.

2. Daftar produk Kosmetik yang kurang aman & Berbahaya terutama saat hamil – Retinoid

Retinoid merupakan turunan dari vitamin A yang fungsinya untuk mempercepat pergantian (regenerasi) sel. Biasa terdapat pada krim untuk mengatasi jerawat. Penggunaan retinoid dapat menyebabkan efek teratogenik atau cacat pada janin.

3. Daftar produk Kosmetik yang kurang aman & Berbahaya terutama saat hamil – Salicylic Acid (BHA)

Salicylic Acid (BHA) biasanya terdapat dalam produk antijerawat, dapat berupa krim bahkan sabun. Walaupun pemakaian dalam konsentrasi kurang dari 2% dikategorikan aman, sebaiknya pilihlah obat jerawat yang benar-benar berkategori aman untuk ibu hamil alias tidak mengandung bahan ini.

kosmetik aman berbahaya ibu hamil24.  Daftar produk Kosmetik yang kurang aman & Berbahaya terutama saat hamil – Hydroquinone

Hydroquinone merupakan bahan pemutih pada kosmetik yang sebaiknya dihindari selama hamil. Ibu kadang tergoda menggunakan kosmetik pemutih untuk menghilangkan bercak-bercak cokelat (pigmentasi) pada kulit wajah akibat kehamilan. Namun,  mengingat penggelapan warna kulit pada ibu hamil bersifat sementara (akan spontan hilang setelah melahirkan), sebaiknya hindari kosemetik tersebut. Selain itu hydroquinone dalam konsentrasi maksimal justru bisa membuat kulit kemerahan dan menimbulkan bercak hitam sebagai efek sampingnya.

5. Daftar produk Kosmetik yang kurang aman & Berbahaya terutama saat hamil – Benzoil Peroxyde

Benzoil Peroxyde dapat diserap melalui kulit sekitar 5% pada pemberian topikal (oles). Biasa terdapat pada produk untuk jerawat. Meski belum ada penelitian tentang cacat janin akibat penggunaan benzoil peroxyde pada manusia, sehingga risikonya belum diketahui, akan lebih bijak jika ibu hamil tidak menggunakan kosmetik yang mengandung bahan ini.

6. Daftar produk Kosmetik yang kurang aman & Berbahaya terutama saat hamil – Soy

Soy biasa terdapat pada produk pelembap dan sabun. Soy atau kedelai merupakan fitoestrogen yang justru dapat memperberat efek bercak hitam pada ibu hamil.

7. Daftar produk Kosmetik yang kurang aman & Berbahaya terutama saat hamil – PABA

PABA merupakan singkatan dari Para Amino Benzoic Acid yang terdapat pada kosmetik tabir surya/sunblock. Asal tahu saja, bahan ini justru membuat kulit menyerap lebih banyak sinar ultraviolet sehingga menyebabkan pencokelatan. PABA sangat disukai oleh mereka yang ingin mendapatkan efek tanning/kecokelatan dengan mandi matahari.

8. Daftar produk Kosmetik yang kurang aman & Berbahaya terutama saat hamil – enzophenone-3

Benzophenone-3 (Oxybenzone) juga terdapat pada beberapa tabir surya dan memiliki aktivitas seperti yang dilakukan hormon estrogen, juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon.

9. Daftar produk Kosmetik yang kurang aman & Berbahaya terutama saat hamil – Rhodamin

Rhodamin biasa terdapat pada make up dengan warna mencolok. Pewarna ini sebetulnya terlarang bagi kosmetik tetapi ada saja produsen yang nakal. Rhodamin hanya boleh dipakai sebagai pewarna tekstil.  Pemakaian rhodamin pada kosmetik dapat menyebabkan kanker kulit pada ibu dan kecacatan pada janin.

10. Daftar produk Kosmetik yang kurang aman & Berbahaya terutama saat hamil – Pewarna rambut

Menurut penjelasan  dr. Raden Furqon (ahli kesehatan alumnus UnPad), zat kimia yang terdapat pada cat rambut pada umumnya mengandung bahan penyebab kanker (carsinogenik) dan bahan berbahaya terhadap janin (terratogenik). Bahan-bahan ini juga terdapat pada cat kuku.

“Zat kimia tersebut di samping berbahaya bisa juga menimbulkan reaksi alergi bahkan bisa menimbulkan kematian,” ujar alumni kedokteran Universitas Padjadjaran ini.

Dia memaparkan, efek terratogenik itu terjadi pada fase organogenesis (0-16 minggu). Fase organogenesis merupakan masa pembentukan organ pada janin dalam kandungan.

ref1

ref2

demikian daftar produk kosmetik yang berbahaya digunakan saat hamil, sebaiknya dihindari agar kehamilan tetap aman terjaga ya

Facebooktwittergoogle_plusmail